Rabu, 26 November 2014

DIARE

DIARE
Konsep Dasar Penyakit
1   Definisi
           Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.


           Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.
           Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
           Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

2.     Klasifikasi Diare
           Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari diare akut, diare persisten dan diare kronis. (Asnil et al, 2003).
a.  Diare Akut
Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu, berlangsung kurang dari 14 hari, dengan pengeluaran tinja lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lendir dan darah
b.  Diare Persisten
Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari, merupakan kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronik.

c.  Diare kronis
Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama dengan penyebab non-infeksi, seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun. Lama diare kronik lebih dari 30 hari.

3.     Etiologi
a.  Faktor infeksi
ü  Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
ü  Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
b.  Faktor Makanan:
     Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
c.  Faktor Psikologis
     Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).

4.     Patofisiologi
 Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
a.   Gangguan osmotic
            Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

b.  Gangguan sekresi
            Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
c.  Gangguan motilitas usus.
            Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.


5.   Gejala Diare
           Beberapa gejala penyakit diare dapat langsung dikenali atau dirasakan oleh penderita. Di antara gejala tersebut adalah:
ü   Buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan
ü   Tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari
ü   Pegal pada punggung, dan perut sering berbunyi
ü   Mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh)
ü   Diare yang disebabkan oleh virus dapat menimbulkan mual dan muntah-muntah
ü   Badan lesu atau lemah
ü   Panas
ü   Tidak nafsu makan
ü   Darah dan lendir dalam kotoran

6.   Pemeriksaan Penunjang
Menurut Hassan dan Alatas (1998) pemeriksaan laboratorium pada diare adalah:
a.  Feses
ü  Makroskopis dan Mikroskopis
ü  pH dan kadar gula pada tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat intoleransi gula.
ü  Biakan dan uji resisten.
b.  Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan pH dan cadangan alkalin atau dengan analisa gas darah.
c.  Ureum kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
d.  Elektrolit terutama natrium, kalium dan fosfor dalam serium.
e.  Pemeriksaan Intubasi deudenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit.


7.   Komplikasi
a.  Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
b.  Renjatan hipovolemik.
c.  Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
d.  Hipoglikemia.
e.  Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
f.  Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
g.  Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.


8.      Konsep Dasar Keperawatan
A.   Pengkajian
a.  Identitas klien.
b.  Riwayat keperawatan.
ü  Awalan serangan : Suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
ü  Keluhan utama : Faeces semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
c.  Riwayat kesehatan masa lalu.
     Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
d.  Riwayat psikososial keluarga.
            Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
e.  Kebutuhan dasar.
ü   Pola eliminasi
Akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
ü   Pola nutrisi
Diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.
ü   Pola tidur dan istirahat
Terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
ü   Pola hygiene
Kebiasaan mandi setiap harinya.

ü   Aktivitas
Akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.

B.   Pemerikasaan fisik.
a.  Pemeriksaan psikologis :
         Keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.
b.  Pemeriksaan sistematik :
ü  Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
ü  Perkusi : adanya distensi abdomen.
ü  Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
ü  Auskultasi : terdengarnya bising usus.

C.   Diagnosa Keperawatan
a. Intoleransi Aktivitas
b. Kekurangan volume cairan
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
d. Resiko Kerusakan Integritas Kulit

D.  Intervensi
No.
Diagnosa Keperawatan
NOC
NIC
1.
Intolerasi Aktivitas
·      Konservasi energi.
·      Toleransi aktivitas.
·      Perawatan diri.
Kriteria hasil :
·       Berpatisipasi dalam aktivitas fisik.
·      Mampu melakukan aktivitas sehari – hari secara mandiri.
Terapi aktivitas :
·      Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan.
·      Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social.
·      Bantu untuk mengidentivikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan.
·      Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai.
2.
Kekurangan Volume Cairan
·      Keseimbangan elektrolit/Cairan.
·      Status Nutrisi.
Kriteria hasil :
·       Tidak mengalami haus yang tidak normal.
·      Memiliki keseimbangan asupandan haluaran yang seimbang dalam 24 jam.
·      Membran mukosa lembap dan mampu berkeringat.
·      Memiliki asupan cairan oral/atau intravena yang kuat.
·      Bantu klien untuk meningkatkan eletrolit dan cairan.
·      Bantu untuk meningkatkan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi kadar cairan yang abnormal atau yang tidak diharapkan.
·      Bantu untuk menyediakan asupan makanan dan cairan dalam diet seimbang.
·      Kumpulkan dan analisa data pasien untuk mencegah atau meminimalkan malnutrisi.
3.
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
·      Selera makan.
·      Status gizi.
Kriteria hasil :
·       Punya keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau sedang menjalani pengobatan.
·      Melaporkan tingkat energy yang adekuat.
·      Membantu dan menyediakan asupan makanan diet seimbang.
·      Bantu untuk makan.
·      Merangsang selera makan pasien dengan cara mecari tahu makanan kesukaan.
4.
Kerusakan integritas Kulit
·      Respon Alergi.
·      Iritasi.
·      Perawatan diri.
Kriteria hasil :
·       Tidak ada tanda-tanda iritasi pada sekitar Perianal.
·      Bantu klien untuk menjaga kebersihan.
·      Bantu untuk mencegah iritasi pada perineal.


DAFTAR PUSTAKA


3.      Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis & Nanda Nic Noc edisi revisi Jilid 1 tahun 2013.
4.      Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnose medis & Nanda Nic Noc edisi revisi Jilid 2 tahun 2013.
5.      Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi tahun 2012-1014.
6.      Buku saku diagnosis keperawatan edisi 9 oleh Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern

Tidak ada komentar:

Posting Komentar