HALUSINASI
A. Pengertian
Persepsi
didefinisikan sebagai suatu proses diterimanya rangsang sampai rangsang itu
disadari dan dimengerti oleh penginderaan atau sensasi: proses penerimaan
rangsang (Stuart, 2007).
Persepsi
merupakan tanggapan indera terhadap rangsangan yang datang dari luar, dimana
rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan penglihatan, penciuman,
pendengaran, pengecapan dan perabaan. Interpretasi (tafsir) terhadap rangsangan
yang datang dari luar itu dapat mengalami gangguan sehingga terjadilah salah
tafsir (missinterpretation). Salah tafsir tersebut terjadi antara lain karena
adanya keadaan afek yang luar biasa, seperti marah, takut, excited
(tercengang), sedih dan nafsu yang memuncak sehingga terjadi gangguan atau
perubahan persepsi (Triwahono, 2004).
Perubahan
persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakan antara rangsang yang
timbul dari sumber internal seperti pikiran, perasaan, sensasi somatik dengan
impuls dan stimulus eksternal. Dengan maksud bahwa manusia masih mempunyai
kemampuan dalam membandingkan dan mengenal mana yang merupakan respon dari luar
dirinya. Manusia yang mempunyai ego yang sehat dapat membedakan antara fantasi
dan kenyataaan. Mereka dalam menggunakan proses pikir yang logis, membedakan
dengan pengalaman dan dapat memvalidasikan serta mengevaluasinya secara akurat
(Nasution, 2003).
Perubahan persepsi sensori ditandai oleh adanya halusinasi. Beberapa pengertian mengenai halusinasi di bawah ini dikemukakan oleh beberapa ahli:
Perubahan persepsi sensori ditandai oleh adanya halusinasi. Beberapa pengertian mengenai halusinasi di bawah ini dikemukakan oleh beberapa ahli:
Halusinasi
adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya
penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber
dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).
Halusinasi
adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan
dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat
kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi
pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu.
Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang
hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2003).
Halusinasi
merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu
yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan
dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra
tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005).
Halusinasi
adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien merasa melihat,
mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu
rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2005).
Halusinasi
adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari
luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat
kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn, 1998).
Varcarolis
mendefinisikan halusinasi sebagai terganggunya persepsi sensori seseorang,
dimana tidak terdapat simulus (Yosep, 2009). Menurut Stuart dan Sundeen's (2004)
mendefinisikan halusinasi sebagai “hallucinations are defined as false
sensory impressions or experiences”. Arti dari kalimat di atas, Stuart dan
Sundeen’s mendefinisikan halusinasi sebagai bayangan palsu atau pengalaman
indera.
Halusinasi
ialah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera seorang pasien,
yang terjadi dalam kehidupan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik,
fungsional, psikopatik ataupun histerik (Maramis, 2005). Kemudian Sunaryo (2004) menjelaskan
bahwa halusinasi merupakan bentuk kesalahan pengamatan tanpa pengamatan
objektivitas penginderaan dan tidak disertai stimulus fisik yang adekuat.
B. Klasifikasi
Klasifikasi
halusinasi sebagai berikut :
1.
Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu
mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam
padahal tidak ada suara di sekitarnya.
2.
Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan
orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada.
3.
Halusinasi bau/hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang
di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau
bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.
4.
Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan
dengan halusinasi bau/hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di
mulutnya.
5.
Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu
yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaan
ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.
Menurut Mary
Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa
seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang
berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat
juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan
metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai
pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan
antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya
halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi
pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi,
perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya
permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik
tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor
biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress
lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme
koping.
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab
terjadinya halusinasi adalah:
1. Faktor predisposisi
1. Faktor predisposisi
a. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf
yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai
dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
o Penelitian
pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam
perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik
berhubungan dengan perilaku psikotik.
o Beberapa zat
kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan
masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya
skizofrenia.
o Pembesaran
ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang
signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia
kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan
atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung
oleh otopsi (post-mortem).
b. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien
sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau
keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan
atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.
c. Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi
gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang,
kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
d. Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami
hambatan dan hubungan interpersonal terganggu, maka induvidu akan megalami
stres dan kecemasan.
e. Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
gangguan jiwa. Jika seseorang mengalami stres yang berlebihan, maka di dalam
tubuhnya akan di hasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti buffofenon dan dimethytranferase (DMP).
f. Genetik
Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia
belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga
menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
2. Faktor
Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan
halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan,
isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian
individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan
kekambuhan (Keliat, 2006).
Menurut Stuart
(2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:
a. Biologis
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran
balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
b. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang
berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan
perilaku
c. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon
individu dalam menanggapi stressor.
D. Psikopatologi
Psikopatologi
dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang
menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada
yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh
aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh.
Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.
Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai
pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam
unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.
Pendapat lain
mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke
unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya
menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus
eksterna.
E. Tanda dan Gejala
1. Merasa tidak mampu (HDR).
2. Putus asa (tidak percaya diri).
3. Merasa gagal (kehilangan motivasi
menggunakan ketrampilan diri).
4. Kehilangan kendali diri
(demoralisasi).
5. Merasa mempunyai kekuatan berlebihan
dengan gejala tersebut.
6. Merasa malang (tidak dapat memenuhi
kebutuhan spiritual).
7. Bertindak tidak seperti orang lain
dari segi usia maupun kebudayaan.
8. Rendahnya kemampuan sosialisasi
diri.
9. Perilaku agresif.
10. Perilaku kekerasan.
11. Ketidakadekuatan pengobatan.
12. Menarik diri.
13. Sering di
dapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu.
14. Tersenyum atau bicara sendiri.
15. Secara
tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti
sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang
halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).
F. Tahapan halusinasi
Tahapan
terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart dan Laraia (2001) dan
setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:
Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam
seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk
berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien
tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara,
pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.
Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan
menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk
mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi
peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan
tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik dengan
pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan
realita.
Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan
terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar
berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi
perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan
terutama jika akan berhubungan dengan orang lain.
Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam
jika klien mengikuti perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan,
agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan
tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan.
G. Rentang respon halusinasi.
Menurut Stuart dan
Laraia (2001), halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang
berada dalam rentang respon neurobiologi. Rentang respon neurobiologi dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Pikiran logis
yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren.
2. Persepsi akurat
yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang didahului oleh
perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam
maupun di luar dirinya.
3. Emosi konsisten
yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak
komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.
4. Perilaku sesuai
yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih
dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya umum yang berlaku.
5. Hubungan sosial
harmonis yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan
individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerjasama.
6. Proses pikir
kadang terganggu (ilusi) yaitu menifestasi dari persepsi impuls eksternal
melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu
di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami
sebelumnya.
7. Emosi
berlebihan atau kurang yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan
atau kurang.
8. Perilaku tidak
sesuai atau biasa yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma–norma sosial atau budaya umum
yang berlaku.
9. Perilaku aneh
atau tidak biasa yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya
umum yang berlaku.
10. Menarik diri
yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari
hubungan dengan orang lain.
11. Isolasi sosial
yaitu menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam berinteraksi.
Halusinasi
merupakan respon persepsi paling maladaptif. Jika klien sehat, persepsinya
akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan
informasi yang diterima melalui panca indra (pendengaran, penglihatan,
penghidu, pengecapan, dan perabaan), sedangkan klien dengan halusinasi
mempersepsikan suatu stimulus panca indra walaupun sebenarnya stimulus itu
tidak ada.
H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien
halusinasi dengan cara :
1.
Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan,
kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan
pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi kontak mata,
kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik
secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati
pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya
pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. Di
ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan
mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding,
gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.
2.
Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di
berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan
sebaiknya secara 4persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat
yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
3.
Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi
masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.
4.
Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk
melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan
kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan
memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan
memilih kegiatan yang sesuai.
5.
Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses
perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.
Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
Pada tahap ini
perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu :
1.
Faktor predisposisi.
Adalah faktor
resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh
individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari pasien maupun keluarganya,
mengenai faktor perkembangan, sosial kultural, biokimia, psikologis dan genetik
yaitu faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat
dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.
o Faktor
Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami
hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami
stress dan kecemasan.
o Faktor
Sosiokultural
Berbagai faktor dimasyarakat dapat
menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan
tempat klien di besarkan.
o Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
gangguan jiwa. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka
didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).
o Faktor
Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak
harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh
anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan
gangguan orientasi realitas.
o Faktor genetik
Gen apa yang berpengaruh dalam
skizoprenia belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor
keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
2. Faktor
Presipitasi
Yaitu stimulus
yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman/tuntutan yang
memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering
yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi,
objek yang ada dilingkungan juga suasana sepi/isolasi adalah sering sebagai
pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress
dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.
3. Perilaku
Respon klien
terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman,
gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu
mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata.
Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi
berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang
dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi
dapat dilihat dari dimensi yaitu :
o Dimensi Fisik
Manusia dibangun oleh sistem indera
untuk menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya.
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang
luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol
dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
o Dimensi
Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas
dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu
terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan.
Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi
tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
o Dimensi
Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini
menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya
penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri
untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan
kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan
mengontrol semua prilaku klien.
o Dimensi Sosial
Dimensi sosial pada individu dengan
halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik
dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan
akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam
dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem control oleh individu tersebut,
sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain
individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan
intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan
pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusakan klien tidak
menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan
halusinasi tidak berlangsung.
o Dimensi
Spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai
makhluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan
yang mendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas
tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi
sistem kontrol dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya
individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya.
4.
Sumber Koping
Suatu evaluasi
terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat mengatasi stress
dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. Sumber koping
tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan
keyakinan budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang
menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.
5.
Mekanisme Koping
Tiap upaya yang
diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung
dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri.
B. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
1.
Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang
lain berhubungan dengan halusinasi.
2.
Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan
dengan menarik diri
3.
Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga
diri rendah.
C. Intervensi
Diagnoasa 1 :
Resiko perilaku kekerasan pada diri
sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi
Tujuan : Tidak terjadi perilaku
kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.
Kriteria Hasil :
Kriteria Hasil :
1.
Pasien dapat mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat
ini secara verbal.
2.
Pasien dapat menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan
saat halusinasi, cara memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang efektif
bagi pasien untuk digunakan
3.
Pasien dapat menggunakan keluarga pasien untuk mengontrol
halusinasi dengan cara sering berinteraksi dengan keluarga.
Intervensi :
·
Bina Hubungan saling percaya.
·
Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.
·
Dengarkan ungkapan klien dengan empati.
·
Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara
bertahap (waktu disesuaikan dengan kondisi klien).
·
Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal yang
berhubungan dengan halusinasi.
·
Jelaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan
menggambarkan tingkah laku halusinasi.
·
Identifikasi bersama klien situasi yang menimbulkan dan
tidak menimbulkan halusinasi, isi, waktu, frekuensi.
·
Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
saat alami halusinasi.
·
Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan bila
sedang mengalami halusinasi.
·
Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi.
·
Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan cara
memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien.
·
Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok.
·
Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika
mengalami halusinasi.
·
Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk
mengontrol halusinasi.
·
Bantu klien menggunakan obat secara benar.
Diagnosa 2 :
Perubahan persepsi sensorik :
halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
Tujuan : Klien mampu mengontrol
halusinasinya.
Kriteria Hasil :
1.
Pasien dapat dan mau berjabat tangan.
2.
Pasien mau menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat
dan mau duduk bersama.
3.
Pasien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri.
4.
Pasien mau berhubungan dengan orang lain.
5.
Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan
secara bertahap dengan keluarga.
Intervensi :
·
Bina hubungan saling percaya.
·
Buat kontrak dengan klien.
·
Lakukan perkenalan.
·
Panggil nama kesukaan.
·
Ajak pasien bercakap-cakap dengan ramah.
·
Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan
tanda-tandanya
serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab pasien tidak mau bergaul/menarik diri.
serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab pasien tidak mau bergaul/menarik diri.
·
Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri,
tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab.
·
Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaan.
·
Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan.
·
Perlahan-lahan serta pasien dalam kegiatan ruangan dengan
melalui tahap-tahap yang ditentukan.
·
Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai.
·
Anjurkan pasien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari
berhubungan.
·
Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan pasien
mengisi waktunya.
·
Motivasi pasien dalam mengikuti aktivitas ruangan.
·
Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan.
·
Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling percaya
dengan keluarga.
·
Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri,
penyebab dan car a keluarga menghadapi.
·
Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi.
·
Anjurkan anggota keluarga pasien secara rutin menengok
pasien minimal sekali seminggu.
Diagnosa 3:
Isolasi sosial : menarik diri
berhubungan dengan harga diri rendah.
Tujuan : Pasien dapat berhubungan
dengan orang lain secara bertahap.
Kriteria Hasil :
1.
Pasien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan.
2.
Pasien dapat menyebutkan efektifitas koping yang
dipergunakan.
3.
Pasien mampu memulai mengevaluasi diri.
4.
pasien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai
dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
5.
Pasien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang
dilakukan sesuai dengan rencanan.
Intervensi :
o Dorong pasien
untuk menyebutkan aspek positip yang ada pada dirinya dari segi fisik.
o Diskusikan
dengan pasien tentang harapan-harapannya.
o Diskusikan
dengan pasien keterampilannya yang menonjol selama di rumah dan di rumah sakit.
o Berikan
pujian.
o Identifikasi
masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pasien.
o Diskusikan koping
yang biasa digunakan oleh pasien.
o Diskusikan
strategi koping yang efektif bagi pasien.
o Bersama pasien
identifikasi stressor dan bagaimana penialian pasien terhadap stressor.
o Jelaskan bahwa
keyakinan pasien terhadap stressor mempengaruhi pikiran dan perilakunya.
o Bersama pasien
identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak realistis.
o Bersama pasien
identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki.
o Tunjukkan
konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok.
o Diskusikan
koping adaptif dan maladaptif.
o Diskusikan
kerugian dan akibat respon koping yang maladaptif.
o Bantu pasien
untuk mengerti bahwa hanya pasien yang dapat merubah dirinya bukan orang lain.
o Dorong pasien
untuk merumuskan perencanaan/tujuannya sendiri (bukan perawat).
o Diskusikan
konsekuensi dan realitas dari perencanaan/tujuannya.
o Bantu pasien
untuk menetapkan secara jelas perubahan yang diharapkan.
o Dorong pasien
untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang sesuai potensi yang ada pada
dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen
Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa,
, 2000
Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga
Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC, 1995
Keliat Budi Anna, dkk, Proses
Keperawatan Jiwa, EGC, 1987
Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa,
Erlangga Universitas Press, 1990
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental
Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV. Sagung Seto, , 2001.
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku
Saku Psikiatri, EGC, 1997
Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing,
EGC, 1998
Tidak ada komentar:
Posting Komentar